Halaman

Senin, 20 Juni 2011

Berjabat Tangan Usai Sholat

Berjabat Tangan Usai Sholat

Sudah berlaku di masyarakat kita, setelah selesai sholat berjama’ah, satu sama lain saling bersalaman. Apakah itu ada dasar hukumnya, lantas apa faedahnya?
Bersalaman antar sesama muslim memang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hal itu dimaksudkan agar persaudaraan semakin kuat, persatuan semakin kokoh. Salah satu bentuknya adalah anjuran untuk bersalaman ketika bertemu. Bahkan jika ada saudara muslim yang datang dari bepergian jauh, misalnya habis melaksanakan ibadah haji, maka disunnahkan juga saling berangkulan (mu’anaqah).
Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib, Rasulullah SAW bersabda bahwa dua orang yang bertemu dan bersalaman akan diampuni dosa mereka sebelum berpisah. (HR Ibnu Majah)
Berdasarkan hadits inilah ulama Syafi’iyyah mengatakan bahwa bersalaman setelah sholat hukumnya sunnah. Kalaupun perbuatan itu dikatakan bid’ah (hal baru) karena tidak ada penjelasan mengenai keutamaan bersalaman usai sholat, maka bid’ah yang dimaksud di sini adalah bid’ah mubahah, yang diperbolehkan. (Soal bid’ah, lihat penjelasannya dalam fasal tentang bid’ah).
Imam Nawawi menyatakan, bersalaman sangat baik dilakukan. Sempat ditanyakan, bagaimana dengan bersalaman yang dilakukan usai shalat? Menurut Imam Nawawi, salaman usai shalat adalah bid’ah mubahah dengan rincian hukum sebagai berikut: Jika dua orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum shalat maka hukum bersalamannya mubah saja, dianjurkan saja, namun jika keduanya berlum bertemu sebelum shalat berjamaah hukum bersalamannya menjadi sunnah, sangat dianjurkan. (Dalam Fatâwî al-Imâm an-Nawâwî)
Bahkan sebagian ulama mengatakan, orang yang sholat itu sama saja dengan orang yang ghaib alias tidak ada di tempat karena bepergian atau lainnya. Setelah sholat, seakan-akan dia baru datang dan bertemu dengan saudaranya. Maka ketika itu dianjurkan untuk berjabat tangan. Keterangan ini diperoleh dari kita Bughyatul Muytarsyidîn.
Jadi bisa disimpulkan, hukum bersalaman usai shalat adalah mubah atau boleh, bahkan menjadi sunnah jika sebelum shalat kedua orang yang bersalaman belum bertemu.
KH. Muhyiddin Abdusshomad
Ketua PCNU Jember, Jawa Timur

Puisi, Prosa dan Syairku

KATA KATA MUTIARA :

1. Doa memberikan kekuatan pada orang yang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan.

2. Ketika kita lahir, kita menangis dan dunia bergembira. Jalanilah hidup kita dengan cara sedemikian rupa, supaya ketika kita meninggal, dunia akan menangis dan kita bergembira.

3. Memberi tidak harus mengasihi, tetapi mengasihi selalu disertai dengan pemberian.
4. Anda tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika anda mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.
5. Yang penting kalau kita sudah tahu bahwa diri kita stress, itu merupakan kunci utama penyembuhan.

6. Jangan menyimpan rasa dengki dan cemburu, rasa dengki memakan energi.

7. Jangan menjadi pengendara yang agresif. Mengalah pada. "setan jalan".

8. Jalankan kendaraan dengan sikap mengalah.

9. Kasih itu identik dengan perasaan sayang yang diberikan dengan setulus hati dan tanpa paksaan.

10. Dalam keheningan dan harapan, akan muncul kekuatan.

11. Jika anda berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok tanpa rasa takut, berarti anda sudah berada dijalan yang benar menuju sukses.

12. Lebih baik memiliki banyak rencana yang belum terlaksana daripada tidak mempunyai rencana sama sekali.

13. Menyerang tiba-tiba adalah salah satu kunci keberhasilan.
14. Mereka yang yakin akan menang akan melakukan penyerangan.
15. Tertawa merupakan obat terbaik diwaktu sakit maupun tidak.
16. Jadilah orang yang lamban menggerakan lidah tapi cekatan menggerakan mata.
17. Orang bisa menjadi lebih kuat dengan makan, menjadi lebih bijaksana dengan membaca.
18. Berpikirlah seperti orang yang bisa bertindak, Bertindaklah seperti orang yang bisa berpikir.
19. Kebiasaan terbentuk dari diri kita, kemudian kebiasaan membentuk kita.








S A H A B A T
Ada satu perbedaan antara menjadi seorang kenalan dan menjadi seorang sahabat.

Seorang kenalan adalah seorang yang namanya kau ketahui, yang kau lihat berkali-kali, yang dengannya mungkin kau miliki persamaan, dan yang disekitarnya kau merasa nyaman.

Ia adalah orang yang dapat kau undang ke rumahmu dan dengannya kau berbagi.
Namun mereka adalah orang yang dengannya tidak akan kau bagi hidupmu,
yang tindakan-tindakannya kadang-kadang tidak kau mengerti, karena kau tidak cukup tahu tentang mereka.

Sebaliknya, seorang sahabat adalah seseorang yang kau cintai. Bukan karena kau jatuh cinta padanya, namun kau peduli akan orang itu, dan kau memikirkannya ketika mereka tidak ada.

Sahabat-sahabat adalah orang dimana kau diingatkan ketika kau melihat sesuatu yang mungkin mereka sukai, dan kau tahu itu karena kau mengenal mereka dengan baik.

Mereka adalah orang-orang yang fotonya kau miliki dan wajahnya selalu ada di kepalamu.

Mereka adalah orang-orang yang kau lihat dalam pikiran mu ketika kau mendengar sebuah lagu di radio karena mereka membuat dirimu berdiri untuk menghampiri mereka dan mengajak berdansa dengan mereka atau mungkin kau yang berdansa dengan mereka, mungkin mereka menginjak jari kakimu, atau sekedar menempatkan kepala mereka di pundakmu.

Mereka adalah orang-orang yang diantaranya kau merasa aman karena kau tahu mereka peduli terhadapmu.

Mereka menelpon hanya untuk mengetahui apa kabarmu, karena sahabat sesungguhnya tidak butuh suatu alasanpun.

Mereka berkata jujur pertama kali dan kau melakukan hal yang sama.

Kau tahu bahwa jika kau memiliki masalah, mereka akan bersedia mendengar.

Mereka adalah orang-orang yang tidak akan menertawakanmu atau menyakitimu, dan jika mereka benar-benar menyakitimu, mereka akan berusaha keras untuk memperbaikinya.

Mereka adalah orang-orang yang kau cintai dengan sadar ataupun tidak.

Mereka adalah orang-orang dengan siapa kau menagis ketika kau tidak diterima di perguruan tinggi dan selama lagu terakhir di pesta perpisahan kelas dan saat wisuda.

Mereka adalah orang-orang yang pada saat kau peluk, kau tak akan berpikir berapa lama memeluk dan siapa yang harus lebih dahulu mengakhiri.

Mungkin mereka adalah orang yang memegang cincin pernikahanmu, atau orang yang mengantarkan / mengiringmu pada saat pernikahanmu, atau mungkin adalah orang yang kau nikahi.


Tak Sempurna
Tak seperti bintang yang selalu hiasi malam
Atau sang mentari yang mengiringi siang
Aku hanyalah rembulan yang terkadang bersembunyi
Dan hanya memancarkan sebongkah cahaya pinjaman
Kan terlihat indah dipandang sekilas
Hingga melati pun rela mendaki langit untuk menggapainya
Tampak sempurna dengan cahaya kemilau
sehingga merpati pun terbuai akannya
Namun rembulan tak seindah yang diharapkan
K'arna ada lembah dalam yang hiasi permukaannya
Rembulan tak sesempurna yang diimpikan
K'rna dia tak pernah tampakkan sisi gelapnya
Aku hanyalah rembulan yang ada di langit
Terkadang tampil indah dengan sebongkah cahaya pinjaman
Namun aku terkadang bersembunyi di balik malam
Membiarkan bintang-bintang kesepian menghiasi malam





Untuk yang terkasih
Bila pagi datang aku masih berharap dapat menyapamu
Bila malam datang aku masih berharap dapat memimpikanmu
Bila ada yang menjadi harapanku ku ingin selalu bersamamu
menemanimu
Karena....
Aku sangat mencintaimu...
Aku sangat menyanyangimu....
Aku sangat merindukanmu....
Engkau datang memberi sentuhan baru dalam hatiku...
Mengisi hari-hariku yang terasa kosong...
Membuka lembaran baru dalam hidupku...
Memberi kenangan baru dalam hidupku...
Mengobati luka lama yang ditinggalkan olehnya....








ILMU DAN MAKRIFAT
Wahai yang tidak aku kenali
Ku panjat gunung yang tinggi, sangkaku Engkau berada di puncaknya
Namun tidak ku temui Engkau di sana.
Lalu aku terjun dari puncak gunung
Jika Engkau ada pasti Engkau tidak membiarkan daku.
Tangan Kudrat Iradat-Mu menyambar ku
Aku terbang dengan sayap Rahmani-Mu
Mengembara ke seluruh alam maya
Namun tidak ku temui Engkau di dalam alam.
Hatiku mengatakan Engkau ada, lalu aku keluar daripada alam
Dan aku terjun ke dalam hatiku.
Di sana aku temui kebodohanku
Bodohnya aku menyangka akulah Aku
Sedangkan Dia jualah Aku
Dan aku tiada beserta Dia.
Bila aku tiada beserta Dia, tinggallah Dia sendirian
Rindulah Dia kepada diriku, lalu Dia terjun ke dalam hatinya
Di sana Dia berjumpa Aku, aku menyambutnya dengan tersenyum.
Aku dan Dia, dia dan Aku
Bukan dua dan bukan Satu
Satu masih berbentuk
Masih berjarak titik atas dengan bawah
Sedangkan Aku dan Dia tiada antara
Bukan juga titik yang halus, titik yang halus masih menempati ruang
Sedangkan Aku dan Dia, tiada rupa tiada bentuk tiada ruang tiada zaman.
Aku adalah Dia, dia adalah Aku
Tiada beda antara Aku dan Dia
Bila aku cuba mengenali Dia, aku tidak kenal lagi diriku
Aku tidak kenal lagi diri Dia
Bila dia cuba mengenali diriku, dia tidak kenal lagi dirinya
Dia tidak kenal lagi diriku.
Tiada lagi kenyataan, tiada juga keghaiban.
Pengenalan sebenar adalah tidak kenal
Pengetahuan sebenar adalah tidak tahu.
Aku adalah rahsia Dia
Dia adalah rahsia Aku
Usah diganggu rahsia ini.

Impianku
Trabedi menyelubungiku dalam hujan
Kurasakan tak ada peradilan, dan
Tak ada rasa aman dimanapun
Tapi, aku tak akan membiarkannya saperti ini lagi
Jika perang terus berlanjut,
Aku akan menjadi dewa dunia ini
Karena aku punya impian yang sangat tinggi
Aku akan mengusai dunia
Ketika aku berada dipuncak dunia,
keadaan tak akan seperti ini lagi
Ketika aku berada dipuncak dunia,
aku bisa melakukan apapun yang ku mau
Seperti dewa
Ketika aku berada dipuncak dunia,
Kuakan menciptakan duniaku sendiri
Kuakan menciptakan keadilanku sendiri
Dan,
jika aku mati sekarang,
aku akan membuat orang tuaku sedih
Aku akan berdiri diatas dunia
Mungki hanya itulah hal terkecil
yang dapat aku lakkan
Tapi, itulah impian ku


Untuk Mengubahnya
Saat aku disakiti
Aku belajar untuk membenci
Aku menjadi saling benci
Ku menjadi takut dengan diriku sendiri
Hatiku terpenuhi dengan kebencian
Aku tersiksa akan kesalahanku
Meyakinkan bahwa aku melakukan hal yang keliru
Namun,
seiring waktu berlalu
Kupahami rasa sakit itu
Rasa sakit membuatku menjadi ramah
Rasa sakit membuatku berkembang
Aku tahu rasa sakit itu
Aku memikirirkannya
dan jawaban yang kutemukan terserah aku
Aku tak akan menangis lagi
Jika kumenangis,
tak ada yang akan berubah
Seperti halnya hujan
Akan tetap turun
Walau aku menginginkan terang
Sekarang, aku membutuhkan kekuatan
Bukan hanya kata kata untuk mengubahnya


Hujan dan matahari
Saat langit semakin gelap, dan tebalnya awan hitam menutupi bintang yang seharusnya terang. Menemani pemimpi yang terlelap. Dua sososk manusia berdiri saling berhadapan dengan terdiam, lalu terdengar isak tangis salah satu dari mereka.
Ska : “Be, ini yg terbaik buat kita”, sambil terisak Ska menjelaskannya dengan pelan.
Be : “Tapi seharusnya kita bisa melewati ni bersama, Be”, Be menjawab meski dia tahu perpisahan ini yg
terbaik.
Ska : “Kau terlalu memanjakan aku, Be. Hingga kau lupa dengan dirimu sendiri.”
Be : “Aku sangat bahagia bisa menyayangimu, Ska. Aku bahagia bahwa ku adalah wanita yg beruntung.
Karena aku begitu menyayangimu, aku harus rela berpisah denganmu. Aku mengerti kau harus
memperjuangkan hidupmu, Ska”
Ska : “Hidup kita……...” tegas Ska.
Hujanpun turun dengan lebat. Mengguyur Be dan Ska. Seakan langit menangis untuk mereka. Tiga tahunpun berlalu. Ditempat dulu mereka berpisah, Be berdiri seorang diri. Menunggu Ska kekasihnya, tatapannya kosong menembus tiga tahun yang lalu hingga tertuju pada wajah kekasihnya, Ska. Dan gerimis turun.
Be : “Dimana kamu sekarang, Ska? Bukankah sudah saatnya kau kembali? Hujan turun lagi, apakah aku
harus menangis lagi hari ini, Ska? Hingga malam jatuh dan datang memelukku dengan sepinya? Ska,
aku kangen kamu.”
Kakinya bergetar dan tak mampu berdiri lagi. Penuh harap ia meratap…..
Be : “Seandainya hujan tak juga berhenti, hingga matahari tenggelam mungkin aku tak akan melihamu
lagi, Ska .”
Diantara keputus asaan itu…..
Ska : “Hujan tak akan berhenti sayang. Matahari juga tak akan tenggelam.”
Ska tiba tiba muncul……..
Ska : “Kita diantara mereka. Cinta kita diantara hujan dan matahari. Lihatlah disebelah timur, Be! Waranya
indah, langit mengadiahkan untuk kita. Pelangi untuk cinta kita. Cinta yang kita simpan diantara
harapan dan kesedihan. Kita berhasil, Be! Aku pulang!” dengan tatapa yang sama, Ska menatap
lembut kekasihnya.

Dan Ingatlah Saudaraku

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh Bismillahirrohmanirrohim Dan ingatlah saudaraku,bahwa banyak di luar sana yang mereka bertahta,berkarya,dan berimajinasi dengan cita dunianya,dengan cita akhirat nya,padahal mereka buta tidak mengenal tuhannya.m...ereka hidup dalam pencarian tuhan,yang mereka sendiri salah dalam melabuhkan imannya... kepada tuhan yang sesungguhnya.mereka terdampar dalam kemusyrikan,dalam pada mereka yang berkata bahwa mereka taat kepada tuhannya padahal bukanlah tuhan yang mereka tuhankan,melainkan tiadalah ada perbedaannya dengannya (baru).namun itulah kepercayaan yang mereka pilih sebagai tempat menyandarkan bahtera kehidupannya dalam memilih tuhannya. Dalam sisi lain saat terdengar suatu kabar di mana mereka berbalik arah,berbalik labuh kepada sebuah kenyataan dan senyata-nyatanya yaitu Islam,kita akan serempak menyambut dengan suka cita,dengan tangis haru,dengan takjub rasa syukur,dengan ucapan ‘’Selamat datang saudaraku’’,dengan penuh keyakinan dalam bahwa marilah kita berpegang tangan mencari ridha tuhan yang sesungguhnya. Namun bila kita melihat mereka para kafir yang menghujad,yang mencemari,yang melecehkan,maka dengan setitik keimanan,secercah kadar iman yang pada di hati kita,kita akan berontak tidak menerinya.Dan kita dengan jelas dalm bayangan adalah kecelakaan bagi mereka yang tidak mengenal tuhannya. Saat kita melihat mereka yang mengusai kenikmatan dunia dalam istidraj,mereka yang berkelana di dunia ini dengan bagai seoprangn raja sedang mereka tidak menemukan tuhannya.maka kita akan berucap bahwa sungguh merugilah mereka yang hanya mendapatkan surga duniawinya saja. Saat kita melihat ketenaran yang tidak kita dapatkan,di mana mereka duduk dalam level tertinggi dalam kesuksesan yang semua orang megenalnya.tapi dalam sisi lain akan terbayang oleh kita bagaimana kelak atas mereka yang tidak mengenal tuhannya,sedangkan yang mereka dapatkan adalah pemberian dari tuhannya yang berupa istidraj. Lalu mereka mengiming-imingkan kesuksesan itu kepada kita supaya kita mempelajarinya,bagaimana langkah sukses,bagaimana indahnya sukses,bagaimana menjadi seorang raja,bagaimana menjadi seorang bintang,dan bermacam-macam tawaran yang menjanjikan yang membuat kita berfikir untuk menginvestasikan anak cucu kita pada seperti yang mereka sarankan.dan apakah setiap kesuksesan dari mereka yang tidak mengenal tuhannya akan menjadi suatu kebaikan dari ridha tuhanmu,sedangkan bahwa mereka dalam kesuksesannya adalah istidrajb . dan apakah tidak keliru dan bertentangan dengan perintah yang di ajarkan oleh tuhan mu agar kalian menginvestasikan diri kalian dan keluarga kalian untuk akhirat ; ’’ قو انفسكم واهلكم نارا’’’ ‘’Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’’. Maka dari itu suatu pembelajaran yang harus kita syukuri dari sebuah nikmat yang telah tertuju dan terpilih atas kita sebagai pemberian dari Allah,dimana Allah telah menunjuk kita dengan kehendaknya,dengan rahmatnya,dengan kasih sayangnya kepada kita atas pemberiannya yang Dia siapkan sejak zaman terdahulu (Azali).kita terpilih dari sekian banyak yang tereleminasi,kita terpilih dari sekian banyak talenta,kita terpilih dari sekian banyaknya mereka yang tidak terpilih.Lalu apa Award itu yang telah di tujukan pada kita,apa pemberian itu yang sungguh jelas buat kita.Maka tidak lain adalah iman yang tertera pada kita,dengan keimanan yang benar dalam mencari tuhannya,dengan keimanan yang benar dalam menunjuk Rasulnya,dengan iman yang benar membaca kitabnya,dengan iman yang benar mengenal dan melangkah bersama petunujuknya,yang mana mereka semua tersesat selain yang Allah beri petunjuk atas mereka. Disaat mereka berjuang mencari kebenaran,maka kita terlahir dari seorang ibu yang telah membenarkan.Disaat mereka tersesat mencari tempat berpegang,maka kita terlahir dengan selalu bapa dan ibu yang menuntun kearah ajaran iman,dan disaat mereka memgang ranting yang rapuh,maka disini kita di lahirkan dalam sebuah dahan yang kokoh yang akarnya sampai pada Ilahi sang pemilik Alam semesta,Raja di Raja,dan yang Maha suci tanpa harus pensucian.Dan berfirman , اشكر لي والولديك"” ‘’Bersyukurlah kamu kepadaku dan kepada kedua orang tuamu’’ Maka dari itu renungkanlah pemberian itu,renungkanlah kedudukan itu,renungkanlah sebelum kehilangan itu,bahwa bukanlah sebuah jarum yang hilang di tengah hutan.iman tidak dapat di ukur dalam ibarat,karena sekali itu hilang maka celaka dan tak mudah mendapatkannya kembali.karena iman adalah hidayah pemberian dari sang Maha Pemberi Petunjuk.peliharalah,jagalah dan renungkanlah bahwa kita benar-benar terpilih dalam memiliki keimanan yang Haq’’. Dan berkata seorang ulama kepada santrinya,’’ Wahai anak ku,jika kau di Tanya tentang imanmu,maka jawablah ‘insyaallah aku sekarang beriman’,karena iman yang ada padamu adalah pemberian yang Allah kuasa untuk mengambilnya darimu,maka berdoalah dekatkan dirimu kepadanya,jauhilah perbuatan maksiat,sucikan hatimu sebelum kau menyesal karena imanmu telah di ambil kembali dari dirimu (kufur). Semoga Allah akan tetap menjaga kita dari kekufuran dan kelalaian dari segala perkara yang tiada keridhaan Allah Atasnya….Amiiin Yaa Rabball Alamiiin…….. Syukron semoga apa yang habib sampaikan akan bermanfaat bagi saudaraku semua…… Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh... Oleh Al Habib Yusuf Alkaf.

Penyebab Kemunduran Islam part 2

“Diri Anda berbentuk namun karena khayal dengan ketidaktahuan dan kebodohan melakukan dan memupuk karma melalui pikiran pikiran perbuatan dalam masa yang tak terhitung. Selalu membentengi, menyelubungi, melapisi dan menggelapkan ‘hakekat sejati’ hingga menganggap khayal adalah nyata dan nyata adalah khayal.
Anda mencarinya, namun Anda tak tahu apa yang Anda cari, atau mungkin cara untk mendapatkannya. Anda sering merasa bingung, merasa banyak menjumpai kekacauan dan kekalutan batin. Anda diserang oleh bermacam-macam perasaan yang tidak memuaskan atau yang kurang menyenangkan hati Anda. Secara singkat Anda ini tidak mendapatkan ketenangan dan kesejahteraan dalam batin Anda. Kebanyakan dari Anda kemudian menempuh cara yang salah untuk mendapatkannya. Anda cenderung melihat dan mencari di luar diri Anda sendiri. Dalam keluarga anda, dalam pekerjaan Anda, dalam pergaulan Anda, dan lingkungan Anda. Akibatnya, dunia ini merupakan sumber semua kegelisahan.
Namun gerakan manusia semakin cepat. Aktifitasnya telah dikontrol oleh agenda yang senantiasa dibawa serta. Mereka selalu merasa diburu waktu seakan 24 jam tidaklah cukup. Mereka telah disibukkan oleh rutinitas yang harus dilakukan demi menyambung hidup tanpa mengesampingkan hal lain. Hanya terfokus pada pekerjaannya. Anda terlalaikan.
Semuanya menjadi tak begitu normal. Anda merasa teganggu dengan kejadian atau benda benda. Anda tak bisa melihat dengan apa adanya. Dan Anda tak ingin seperti ini terus, Anda ingin merubahnya. Andaberanggapan kalau dapat merubah keadaan ini, Anda akan menjadi tenang dan bahagia. Namun sekali lagi Anda tak dengan jelas melihat jalan keluarnya, atau ‘caranya’.
Anda berpikir, tapi prose itu menyita sebagian besar waktu Anda. Waktu berlalu begitu cepat. Anda menjadi budak pikiran yang mengembara tak tentu. Kadang kadang Anda membuat keputusan akhir yang berhubungan dengannya. Namun keputusan itu tersembunyi lagi pertanyaan pertanyaan baru. Tersembunyi dalam jalur jalur seperti labirin, jalur yang jauh menjalar jalar, jalur yang tak dikenal dilokus lokus antah berantah, tiada berujung. Menyeret Anda masuk sendirian mengarungi jalur pertanyaan ini. Penuh kegaduhan dan Anda mengutuki diri sendiri sepanjang malam.
Berdiri melihat sesuatu yang tak diketahui didalam gelap itu. Tanpa teman yang sama sama terperangkap. Anda berteriak putus asa memohon pengertian. Anda sangat takut akan kegelapan yang mengepung, dan Anda. menderita dalam batas lingkaran cahaya disekitar Anda itu.
Entah mengapa ditempat yang jauh, entah dimana, tak ada bintang yang dapat dipercaya. Tak ada cahaya penuntun untuk tahu harus kemana. Anda marah, “Kapankah keadaan ini berlalu?” Pencarian jawaban memakan waktu yang tak sedikit. Disaat ini Anda benar benar gelisah. Anda takut dan susah hati menjalani hidup yang ini ini saja.”
Memang tulisan diatas belum cukup menggambarkan pergumulan Anda selama mengembara ke dalam diri untuk mencoba menemukan arti “kesempurnaan” dalam hidup ini. Dan saya yakin, hampir sebagian besar apa yang Anda rasakan seperti itu bukan? Namun jangan khawatir, apa yang Anda alami ini adalah hal wajar dialami manusia, bahkan mungkin sampai saat kematian menghampiri. Kegelisahan dan kesedihan seperti itu merupakan suatu kejahatan kembar. Mereka datang secara beriringan dan bergandengan. Mereka hidup bersama sama didunia ini. Jika Anda merasa gelisah, Anda juga akan merasa sedih. Begitupun sebaliknya.
Kejahatan tersebut sebenarnya tercipta oleh Anda sendiri. Anda ciptakan mereka didalam pikiran Anda melalui ketidakmampuan ataupun kegagalan untuk mengerti bahwa perasaan ke’AKU’an dan khayalan yang melambung serta kesalahan dalam menilai setiap benda.
Sekali kali bukan gangguan dari benda benda, melainkan dari pikiran yang berhubungan dengan kebendaan. Hanya jika kita dapat melihat kejadian/benda dengan apa adanya, jika kita dapat menanggalkan ke’AKU’an dan menyadari bahwa ke’AKU’an merupakan khayalan liar yang membawa kekacauan dalam pikiran yang tak terlatih, maka kita dapat melihat bahwa tak ada yang abadi didunia ini.
Masalah akan berlalu seperti cepatnya ketidaktahuan Anda. Apa yang menyebabkan Anda menetaskan air mata hari ini, akan segera terlupakan; Anda mungkin mengingat bahwa Anda pernah menangis, tetapi Anda tidak akan mengingat apa yang Anda tangisi! Sebagaimana kita tumbuh menjadi dewasa dan menjalani kehidupan, jika kita ingat hal ini, kita akan selalu menjadi heran apabila kita berbaring pada malam hari memikirkan hal-hal yang mengecewakan kita yang terjadi selama sehari, atau bagaimana kita menaruh dendam terhadap seseorang dan terus membiarkan pikiran-pikiran yang sama timbul di dalam pikiran kita, tentang bagaimana ita akan membalas orang yang telah merugikan kita. Kita mungkin menjadi marah terhadap esuatu, tetapi kemudian bertanya-tanya dan merasa heran, apakah sebenarnya yang menyebabkan kita begitu marah.
Apabila kita telah berhasil menghentikannya dan mulai berpikir tentang hal lain yang bermanfaat, maka kita akan menyadari betapa waktu dan tenaga kita terbuang sia-sia karenanya, dan betapa kita dengan sengaja telah menyebabkan ketidakbahagiaan. Apa pun kesulitan kita, bagaimana pun beratnya kesulitan yang timbul, semuanya akan dapat diselesaikan. Tetapi sebelumnya tentu saja harus ada usaha untuk melindungi diri kita agar tidak terjadi kesulitan-kesulitan tersebut lagi. Mengapa kita membiarkan orang-orang dan kesulitan-kesulitan menguras tenaga kita dan membuat diri kita tidak bahagia? Tentu saja jawabnya adalah bahwa bukan mereka yang berbuat demikian, melainkan kita sendirilah yang membuat diri kita tidak berbahagia.








Pikiran

Harus disadari bahwa ada cara untuk menghadapi masalah-masalah dan kesulitan-kesulitan tersebut, dengan kata lain, masalah-masalah dan kesulitan-kesulitan tersebut pasti ada akhirnya, yang ditemukan dengan cara mencapai kebebasan dengan membasmi semua bentuk keragu-raguan dan kebodohan dalam pikiran Anda Semua mahluk hidup yang memiliki kesadaran (bahkan yang terkecil sekalipun) memiliki tiga karakter dasar yaitu tubuh, ucapan dan pikiran. Tubuh adalah bagian fisik yang terus berubah. Ucapan mengacu pada semua jenis komunikasi dalam bentuk suara, kata-kata, gerakan, dan ekspresi wajah. Pikiran lebih sulit dijelaskan karena pikiran bukan sebuah benda yang bisa kita tunjuk seperti tubuh dan ucapan.
Pikiran tidak memiliki lokasi spesifik, bentuk, warna atau kualitas-kualitas lain yang nyata. Lebih mudah mengatakan bahwa pikiran itu tidak ada. Tetapi secara sadar ataupun tidak sadar, kita berpikir dan merasa. Kita menderita ketika punggung kita sakit, kita bisa merasa sedih dan gembira. Jadi, tidak bisa dikatakan bahwa pikiran itu tidak ada. Meskipun kita tidak bisa melihatnya, pikiran selalu hadir dan aktif.
Jadi bilamana Anda mencari keburukan, tak akan sulit bagi Anda untuk menemukannya. Dan apabila Anda mencari keindahan, juga pasti akan Anda temukan. “Mengapa?” Itu karena pikirkan adalah (sensasi pancaran) yang diungkapakan dengan kata kata. Pikiran adalah respon dari ingatan, kata, pengalaman, gambaran (image). Pikiran selalu cepat berlalu, selalu berubah, tak kekal dan mencari kekekalan. Maka pikiran menciptakan Anda, yang kemudian menjadi “kekal”. Ia mengambil peran sebagai penyensor, penuntun, pengendali, pencetak pikiran. Entitas kekal yang merupakan ilusi ilusi ini adalah produk pikiran, produk yang cepat berlalu. Entitas ini adalah pikiran, dan tanpa pikiran ini ia tak ada.
Anda terdiri dari kualitas kualitas. Kualitas kualitas ini adalah nyata, dan tak dapat dipisahkan dari Anda. Anda adalah yang dikendalikan. Anda sekedar memainkan permainan yang menipu Anda sendiri. Sampai yang palsu terlihat sebagai yang ‘benar benar’ palsu. Tak ada kebenaran lagi. Itulah saat masalah tercipta.
Sedikit dari Rahasia
Saat ini boleh dikata ummat Islam adalah ummat yang paling tertinggal dibanding ummat-ummat beragama lainnya. Israel meski berjumlah hanya 40 juta, namun menguasai ekonomi dan politik dunia.
Ummat Nasrani di Eropa, Australia, AS, sangat maju di bidang teknologi. Mereka mampu membuat mobil, kapal selam, kapal induk yang mampu memuat ratusan kapal terbang, rudal antar benua, pesawat ulang alik yang mengelilingi bumi, bahkan bisa membuat pesawat ruang angkasa yang bisa melaju jauh hingga melewati planet Saturnus.
Namun sekarang?
Ummat Islam boleh dikata ummat yang paling miskin, paling bodoh, dan paling suka bertengkar dengan sesama.
Mengapa?
Mereka berada di ban berjalan tanpa daya, karena sebuah rahasia tersembunyi dari mereka. Bahkan sebagian dari mereka menyembunyikannya. Persepsi tentang pikiran oleh kalangan umat Islam telah salah. Itu diperjelas oleh Al-Ghazali yang mengatakan bahwa akal bukanlah sesuatu yang tinggi nilainya. Menurut beliau, adalah al-dzauq dan ma’rifat sufilah yang justru akan membawa seseorang kepada kebenaran yang meyakinkan. Pemikiran Al-Ghazali ini, sangat mempengaruhi dunia islam saat itu. Buku dan pengaruh Al-Ghazali inilah yang membuat islam terpuruk dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan sampai hari ini.
Saya tak tahu apakah beliau itu lupa atau tak tahu bahwa pikiran memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Padahal dalam kitab Qur’an (kitab umat islam) kata akal (‘aql) disebut 49 kali didalam 28 surah: 31 kali dalah surah makiyah dan 18 dalam surah madaniyah.
Akal memiliki arti yang sangat padat dalam Qur’an. Seperti yang saya katakan diatas itu, dalam perbendaharaan kata umat islam, “akal memiliki kedudukan yang sangat tinggi”. Sehingga bila umat Islam sampai tidak memiliki akal akan dianggap tidak laik untuk beribadah. Dari segi ibadah, ia sangat erat kaitannya dengan kesadaran. Menurut Qurais Shihab, Qur’an menggunakan kata itu untuk “sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus ke dalam kesalahan atau dosa”. Dengan menelusuri ayat yang menggunakan akar kata ‘aql, sesuatu dalam konteks di atas dapat dimaknai: Daya untuk memahami sesuatu.
Jika saja umat Islam memahaminya, mungkin akan lain jadinya.

Doaku

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia.
Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah pelindung bagi yang lemah, dan Engkaulah juga pelindungku! Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?
Jika Engkau tak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan memprsalahkan diriku, hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun selain atas perkenan-Mu.”

Pejuang

PEJUANG

K
alau kita membaca sejarah di negeri kita 350 tahun kita dijajah oleh Belanda , di buat menjadi manusia yang tak percaya diri, manusia yang hanya sekedar menjadi kuli. Tapi himpitan penjajahan ternyata bisa didobrak oleh sekelompok manusia yang berada dalam barisan pejuang di negeri ini. 14 agustus 1945 Indonesia merdeka dari penjajahan, buah dari perjuangan para pejuang.
Saudaraku sekalian, Alhamdulillah kita bisa merdeka dengan tetesan air mata, keringat bahkan darah para pejuang. Sekarang sudah lebih dari setengah abad kita merdeka, dan sepatutunya Negara yang sebesar ini dengan seluas dan sekaya ini menjadi Negara yang disegani di dunia. Tetapi fakta kita dikenal dengan julukan kurang nyaman atau bahkan tidak enak. Negara yang menjadi sarang korupsi, Negara yang menjadi rangking dua dalam pornografi, segara yang dianggap pula sebagai sarang teroris, mengapa julukan negative begitu banyak?
Sahabat, kita lihat sejarah Negara manapun kalau tertindas, dijajah, dibelenggu, akan tampil barisan pejuang yang akan mampu membobol kesulitan sebesar apapun. Namun sesudah merdeka, hampir semua Negara tidak dikelola oleh para pejuang, tetapi dikelola oleh para pekerja. Bedanya para pejuang dan para pekerja adalah ”pejuang” dia melakukan apapun tanpa pamrih, dia rela mengeluarkan harta, tenaga, pikiran bahkan jiwanya. Tidak terhitung waktu apalagi imbalan, yang dia pikirkan adalah memepersembahkan yang terbaik agar bangsa ini merdeka dan anak cucunya tidak teraniaya. Sedangkan pekerja tentu berbeda. “Pekerja” bekerja sesuain dengan imbalannya. Maka tidak ada jam juang, yang ada adalah jam kerja.
Sebuah Negara yang dikelola oleh para pekerja yang baik, jujur, professional, inovatif, insya Allah seperti perusahaan yang dikelola dengan baik dan jujur, maka akan untung. Sebaiknya yang karyawannya malas, direksinya licik dan berbagai keburukan dalam perusahaan, pasti akan bangkrut bukan?
Pejuang dia berbuat, berkorban tanpa pamrih, dia melakukan yang terbaik untuk kepentingan orang lain, untuk kepentingan masyaratakt banyak. Sedangkan pekerja, dia bekerja karena mendapatkan imbalan, tetapi yang paling buruk adalah penjahat, dia bekerja dengan mengorbankan kepentingan orang lain (kepentingan rakyat) untuk kepentingan dirinya pribadi. Mereka semua tidak memperhatikan rakyat yang mereka pimpin. Mereka tak memberikan perhatian kepada rakyat, padahal mereka butuh perhatian, bukan kekuasaan. Mereka tak memberikan rakyat keamanan, namun malah memberikan penangkapan bagi mereka yang tak sejalan dengan jalan para penguasa.
Para pekerjalah pribadi yang licik dan pengecut. Mungkin jika dijajah kembali, pilihan mereka adalah lebih baik diinjak-injak oleh kaki para panjajah, rela melepaskan kemerdekaan ketimbang mempertahankan hingga titik darah terakhir. Merekalah yang akan rela melepaskan kaum wanitanya diambil musuhnya itu sebagai pelampiasan nafsu.
Mengapa Negara sekaya ini jadi banyak hutang? Selain pengelolaan yang kurang baik, juga

boleh jadi banyak orang yang curang. Dan survey memang membuktikan, Negara kita memang Negara yang disegani dalam masalah korupsi.
“Saudara-saudaraku, jadi harus bagaimana?”
Sederhana saja, andaikan sebuah kapal sehat, nahkoda bagus, pasti dapat ikan banyak. Tapi kalau kapal dalam keadaan rusak, bocor dibawah, itu perlu perjuangan dan pengorbanan; harus ada yang menyelam, harus mau berpanas-panas kena las, atau bahkan kesetrum, harus ada pengorbanan agar kapal ini kembali berlayar.
Negara kita ini sudah menjadi Negara yang kurang sehat, dan Negara kita tak akan bangkit kalau kita cuma mengandalkan para pekerja saja, tidak bisa… pekerja itu butuh penghasilan, sedangkan untuk menggajinya saja kurang. Kita tahu untuk membayarnya saja, hutang sudah sulit. Bagaimana mungkin kita bisa mengurus kalau hanya karena ingin mendapatkan sesuatu.
Bangsa ini hanya akan bisa bangkit kalau masyarakat, para pemimpinnya, para pengelola Negara bergabung dalam barisan pejuang yang tanpa pamrih, insya Allah bisa bangkit. Oleh mereka yang bersungguh-sungguh. Bukan oleh mereka yang bersantai-santai dan berleha-leha. Dunia akan dimenangkan oleh mereka yang merealisir cita-cita mereka dan dengan jiddiyah dan kekuatan tekad; meskipun suatu kaum itu bathil, jika pengikutnya memperjuangkan dengan penuh kesunguhan niscaya mereka akan meraih kesuksesan didunia ini.
Merekalah orang yang pantas mendapat karunia untuk menjaga Negara ini; sekalipun bukan warisan leluhurnya. Merekalah orang-orang yang baik, orang-orang yang pandai memakmurkan bumi, berbuat kebaikan terhadap semua penghuninya, berhati-hati terhadap musuh yang menyerangnya. Jadi sama sekali bukan berarti orang-orang yang hanya pandai memperpanjang ruku’ dan sujudnya, sedangkan persoalan bumi diabaikannya. Sebab ibadah adalah persoalan kerohanian dimana manfaatnya untuk kebaikan di akhirat. Mengurus persoalan keduniawian adalah persoalan materi yang tidak dapat dilakukan kecuali dengan perantaraan yang ditunjukkan Tuhan.
Mungkin, tapi saya sendiri saja juga tidak yakin. Karena menurut analisis kaum orientalis, bahwa bangsa-bangsa Asia Tenggara (termasuk Indonesia) itu sudah dimasuki jarum-jarum Freemasonry, karena ada tabiat umum yang disebut Tiga Tabiat Tercela, yaitu: Malas, Pendek Pikiran dan Suka Latah.
Dengan memanfaatkan ketiga sifat itulah, kaum Freemasonry telah bergerak di Asia Tenggara, mendapatkan tempat yang subur di Indonesia, sekali-pun penduduknya mayoritas beragama Islam. Akan tetapi sebagian besar dari kita tidak menganut ajaran Islam yang sesungguhnya.
Kita ini, disebut kaum abangan; dan di daerah lainnya, walaupun kita mengaku beragama Islam tetapi tidak berjiwa Islam, adat istiadat kita yang merupakan campuran adat animis, dinamis, Hindu, Budha dan Nasrani.
Turutlah sejarah perkembangan Islam kita, kerajaan-kerajaan seperti Demak di Jawa, kerajaan Bone di Sulawesi, kerajaan Pagarruyung di Sumatra, walaupun disebut kerajaan Islam tetapi dalam tata cara dan adat istiadatnya memuja benda-benda azimat, hukum rajam, potong tangan dan sebagainya, Bahkan jika kita perhatikan keadaan Yogyakarta dan Surakarta yang di anggap bekas Islam itu yang tampak hanya upacara ‘syirik’.

Gerakan kembali kepada Qur’an dan Sunnah di Indonesia, mendapat tantangan berat dari penguasa bukan, dan juga dari kalangan kita yang disebut muslim. Freemasonry dengan segala pengaruhnya itu telah masuk ke Negara kita sejak masa penjajahan. Gerakan-gerakan kesukuan seperti Budhi Utomo, Paguyuban Pasundan dan sebagainya. Dalam tingkah gerak dan upacara para pimpinannya, sejalan dengan paham Freemasonry dalam membenci Islam.
Ki Hajar Dewantara yang dianggap tokoh Nasional itu telah memasukkan paham Freemasonry pada anak didiknya. Taman Siswa adalah sebuah lembaga pendidikan sekuler yang anti pati terhadap Islam, ia menolak pendidikan agama dan ia membuat pendidikan moral sendiri yang disebut Budi Pekerti. Dalam kepercayaannya seolah-olah menolak adanya Tuhan, segala sesuatu itu ia sebutkan sebagai Kodrat alam.
Taman Siswa berusaha menjauhkan anak-anak Islam dari agamanya sendiri, jadilah ia anak sekuler anak yang acuh terhadap agama atau menjadilah ia anak yang menganggap bahwa semua agama itu sama dan semua agama itu baik.
Itulah sebabnya saya tidak yakin. Sebab, kemiskinan tekad telah menggerogoti kita, dan itu lebih menyedihkan dari kemiskinan harta. Salahkanlah diri kita sendiri kenapa bisa terbius oleh jarum Freemasonry.
Begitulah, sunnah itu berlaku hingga sekarang. Perjuangan akan menuai hasil yang manis bila berada ditangan mereka yang mempunyai kesungguhan hati, meskipun mereka bukanlah orang baik. Dan akan bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi mereka akan mati, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran mereka, serta keberhasilan mereka akan tetap hidup sepeningggal mereka.
Maka kewajiban kita sekarang, kembali seperti kewajiban awal da’wah di Makkah, yaitu berjuang agar bisa menampakkan Islam ini.
“Apakah bisa?“
Jawabannya adalah dengan firman Allah;
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Al-Fath: 28)
Memang sekarang kebanyakan manusia enggan memperjuangkan agama ini. Namun diakhir jaman nanti akan ada uang berjuang untuk manampakkan agama. Mereka akan berjuang seperti Nabi dan sahabat-sahabanya. Mereka akan menyelamatkan, dan bukan hanya penyelamatan jasad dikandung badan; tidak hanya keselamatan dunia, tapi juga keselamatan yang abadi. Keselamatan yang tiada duanya. Yaitu surga-Nya yang tak akan pernah terlintas dan tergambar ingatan dalam hati.
Ringkasnya, apa yang menjadi tujuannya tetap dipegang kuat, apa yang menjadi keinginannya tidak akan tergeser. Bukan pujian yang menyebabkannya maju, sebab tanpa pujian mereka akan tetap maju. Bagi mereka pujian itu adalah tuak yang memabukkan, yang akan membuat pengetahuannya layu. Dan mereka tahu benar, hanyalah kekosongan yang ada dalam pujian itu. Sebab pujian-pujian itu hanyalah penutup dari keburukan saja. Dan ia tahu perihal kebaikan yang dilakukannya itu.
Namun mereka akan tertawa kecil demi untuk melegakan hati kawannya. Mereka mengerti bahwa harapan yang terjalin di samping amal perbuatan yang dilakukan itulah yang menjadikan ia
maju. Mereka yakin tanpa ragu-ragu bahwa apa yang mereka kerjakan akan berhasil, sebab jalan

mereka adalah jalan menuju Allah. Meski mereka tahu kalau jalan yang akan mereka laksanakan adalah berat, tapi mereka yakin kalau mereka tak melakukannya, mereka sadar akan akibatnya. Keberanian itulah yang dapat mengesampingkan kekecewaan yang mungkin timbul ketika apa yang sedang mereka rencanakan tengan mereka lakukan; sifat berani inilah yang merupakan garis pemisah, letaknya ditengah-tengah dua sifat yang sama-sama tercela, yakni sifat pengecut dan tercela.
Jika mereka tidak berhasil, mereka yakin nantinya akan ada penerus yang akan menjadi penggantinya, oleh karenanya mereka tak akan pernah duduk termenung, berpikir macam-macam dan diombang-ambing perasaan. Ibarat menanam pohon asam, meski kemungkinan menikmmati hasil usahanya, namun ia puas sebab telah berbuat kebaikan yang terus menerus akan dirasakan generasi seseudahnya.
Dan bukan kecaman yang menyebabkannya mundur. Mereka menjadikan orang yang suka mengkritiknya itu sebagai penasihat utamanya. Sebab bagi mereka, orang yang suka berterus terang itulah sahabat sejatinya, orang seperti itulah manusia yang ikhlas hati; karena suka menerangkan apa yang sebenarnya salah pada dirinya, serta suka menunjukkan kearah mana jalan lurus yang wajib ditempuh.
Merekalah yang disebut sebagai benar-benar manusia. Dan hanya dengan manusia semacam inilah, umat, bangsa, dan agama akan hidup kembali. Umatlah yang akan menilai segala sesuatu yang mereka lakukan.
Artinya mereka bukan golongan yang gemar dipuji sekalipun salah, dan benci dikecam sekalipun kecaman itu benar. Karena merekalah orang-orang tak tertipu oleh perasaanya sendiri. Mereka juga sadar, hanya merekalah yang seluruhnya untuk negeri ini. Bukan orang lain, bukan bangsa lain, hanya merekalah yang menjadi harapan untuk menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara, sebagai penanam jiwa kebangsaan yang murni, hanyalah mereka.
Kini perlu sekali untuk dimengerti, siapakah sebenarnya manusia yang wajar itu? Merekalah yang senang dipuji, sementara dikritik tidak alergi, asal baik pujian dan kritikan sesuai pada tempatnya. Pujian dimaksudkan memberi dorongan seseorang untuk lebih maju kearah kebaikan, dan kritikan sebagai cermin instropeksi diri agar tak tergelincir kedalam lembah kehinaan.
Sahabat, marilah kita renungkan perjalanan diri, rangkuhlah harapan besar, jadikanlah mereka lambang kebesaran dalam perjalanan kita. Milikilah angan-angan yang tinggi seperti angan-angan mereka, lantas jadikanlah pakaian kita sehari-hari, barang kali kita akan menemukan sebab yang sejati. Dan bila kita tak menarik ibrah dan semakin teguh, besar kemungkinannya ada yang salah pada diri kita.

Diam

DIAM

D
alam mendengarkan seseorang yang bicara, kita seharusnya mendengarkan apa yang mereka katakan (meskipun tidak penting) dengan penuh atensi sembari menjaga kontak mata dan bahasa tubuh yang positif, seolah-olah mereka yang maha penting di mata kita. Lakukanlah dengan dibarengi sebuah senyuman, maka mereka akan memahami apa yang tersembunyi dari Anda lewat senyuman itu.
Karena, ini adalah skill dan attitude yang mutlak dimiliki siapapun agar bisa memahami dan menghargai orang lain pada tingkat yang lebih tinggi. Mendengarkan (listening) merupakan salah satu skill yang harus dimiliki siapapun tak cuma pemimpin bisnis atau pejabat pemerintah, tetapi juga kita sendiri.
Mendengarkan bukan merupakan solo performance, melainkan circular connection yang saling terkait. “I listen, you respond; you listen, I respond”.
Karena seperti kita tahu, komunikasi merupakan proses penyampaian ide antara dua pihak yang berbeda. Agar berjalan dengan efektif, kita tak cuma harus menjaga apa yang kita ucapkan melainkan juga mendengarkan dengan engagement yang penuh.
Kemampuan mendengarkan adalah hal yang sangat krusial. Misalnya, seorang pemimpin (leader) bertanggung jawab terhadap kinerja dan hasil dalam suatu organisasi. Sukses tidaknya dipengaruhi oleh sebarapa efektif ia memobilisasi orang-orang di sekitarnya dengan misi, visi, nilai yang diemban; serta bagaimana orang-orang tersebut mendengar dengan baik. Dengan itu ia juga akan mendapatkan balasan positif yang berguna bagi pertumbuhan dan produktivitas.
Kenapa bangsa ini terpuruk dan carut marut tak karuan? Kenapa bangsa ini mulai kehilangan nilai-nilai ketimurannya? Barangkali karena kita telah salah bercara pandang, akhirnya kita terlalu banyak berbicara dan bukannya mendengarkan orang-orang di sekeliling kita dan memperhatikan apa-apa yang ada di sekitar kita.
“Sesungguhnya sekarang kalian melakukan perbuatan yang kalian lihat lebih kecil dari sehelai rambut, tetapi pada zaman Rasulullah saw, kami menganggapnya dosa besar yang membinasakan.” (HR. Bukhari)
Mungkin inilah saatnya untuk mulai belajar menghargai orang lain.
Belajarlah mendengarkan orang lain!
“Karena apa?’
Karena manusia memang cenderung lebih ingin didengarkan. Dalam sebuah survei terhadap ribuan percakapan telephone, terdapat satu kata yang paling banyak disebut. Kata itu adalah saya. Hasil ini mengindikasikan bahwa mayoritas orang ternyata lebih suka menonjolkan kediriannya: bahwa saya lebih ingin bicara dan didengarkan.
Saya punya tips praktis: cobalah hari ini juga, Anda seharian mencoba berbicara SESEDIKIT MUNGKIN, dan LEBIH BANYAK MENDENGAR. Entah bertemu dengan teman, saudara, pasangan

hidup atau siapapun. Dengarkan dengan PENUH EMPATI apa saja celoteh mereka. Dan TAHAN ego dan keinginan Anda untuk BERCELOTEH. Praktekkan tips ini dengan sepenuh hati. Dan percayalah, Anda akan surprise, betapa hidup akan jauh lebih bermakna jika Anda lebih sedikit bicara.
Namun, mendengarkan orang lain bukanlah hal yang mudah, asal tahu saja bahwa hampir semua orang memang berorientasi pada diri sendiri, bagaimana citra dirinya di hadapan orang lain, dsb. Mendengarkan orang lain memang penting. Tetapi bagaimana kita mendengarkan hati kita juga tak kalah penting. Semakin tinggi intelektualitas seseorang semakin mudah mengabaikan bisikan hati kita. Makin sering kita mengabaikan, makin mudah kita menjadi seorang yang ignorant.
Di negara luar sana, mendengarkan adalah salah satu skill yang harus dikuasai mahasiswa komunikasi. Ilmu tentang mendengarkan itu merupakan wacana yang selalu dibahas di dalam satu chapter khusus dari buku-buku kojo KAP (komunikasi antarpribadi atau komunikasi interpersonal) keluaran orang luar seperti DeVito, McCroskey, dll. Kalau untuk pengarang dalam negeri, apa kita pernah membacanya? Ada bab mendengarkan di buku-buku KAP mereka (kecuali yang memang membahas komunikasi secara keseluruhan).
Jadi benar sekali kalau orang-orang Indonesia memang belum aware dengan wacana yang satu ini. Coba saja bersurvei kecil-kecilan terhadap teman-teman kita (se-angkatan, se-jurusan, se-kosan, se-kelas, se-angkot, atau lainnya!). Pastilah akan sedikit sekali yang benar-benar bisa menyimak apa yang lagi dibicarakan. Mereka biasanya mudah teralihkan dengan pikiran mereka (yang akhirnya dibicarain juga) tentang, “kalau pengalaman gw, kalo menurut gw, gw juga punya cerita kaya gitu, kalo gw sih yippi,” semuanya tentang gw, saya, aku.
Dari sekarang kita memang harus belajar mendengarkan, bukan?
Sayangnya, orang yang lebih banyak bicara daripada mendengarkan, justru seringkali lebih menonjol di komunitasnya. Interesting topic, sering dianggap sepele, padahal penting. Allah SWT saja memberi kita dua telinga dan satu mulut. Artinya kita harus mendengar lebih banyak daripada berbicara. Percayalah, effective listening (EL) itu powerful. Dari yang pernah saya pelajari stepsnya itu mengulang apa yang kita dengar (yang saya tangkap adalah), memperjelas isi (mohon anda jelaskan lagi apa yang anda maksud dengan), mengakui (bila apa yang saya artikan benar, maka maksud anda adalah) dan terakhir tawarkan pendapat (dapatkah saya kemukakan pendapat saya atas pendapat anda bahwa) selain itu eye contact jangan lupa. Insya Allah, kalau kita ikuti steps ini tak akan ada lagi miscommunication.
Terkadang menjadi pendengar harus rela menyediakan waktu untuk sesuatu yang belum tentu cocok dengan hatinya. Terkadang juga harus rela menyediakan waktunya untuk sesuatu yang belum tentu cocok dengan hatinya. Justru memang di situ intinya. Bandingkan antara telinga dan mata. Untuk mata, biasanya kita bisa meluangkan waktu untuk melihat sesuatu, kita mengeksplorasi dan menganalisanya dengan berbagai kerumitan, yang tentu belum tentu sesuai dengan hati kita. Kita bisa karena kita sadar dan kita siap untuk melihat apa adanya .
Seharusnya berlaku hal yang sama untuk telinga, kita bisa belajar meluangkan waktu untuk mendengar, lalu mengeksplorasi dan menganalisa dengan kesadaran dan kesiapan untuk mendengar apa adanya.

Memang sulit dalam prakteknya. Kita biasanya terlalu bersemangat dengan ide kita sehingga gagal menangkap apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Lantas kita berbicara secara langsung dan terus terang. Namun, tahukah Anda bahwa hal itu dapat membuat sesuatu menjadi tidak efektif. Bahkan kadang menjadi tidak berguna.
Tapi kalau kita bisa melakukannya, kita akan jadi sedemikian menarik, itu karena kita pendengar yang baik; untuk memberi manfaat, terkadang kita culup sebagai mustamik saja, cukup sebagai pendengar. Dengan tak memotong pembicaraan, kalau tidak setuju, jangan langsung menyanggah, namun lontarkanlah pertanyaan ingin tahu. (Beda dengan pertanyaan pengacara yang berkesan mematahkan argumen); Dan segala sesuatu itu janganlah berlebihan, termasuk dalam pertanyaan ingin tahu tersebut. Karena tahu terlalu banyak itu kadang berbahaya. Jadi tanyakanlah rasa ingin tahu itu apa-apa saja yang baik untuk Anda. Kalau Anda tahu terlalu banyak, nanti Anda akan bingung.
Meski kita memahami bahwa kita jangan selalu ingin menangnya sendiri, namun bukan berarti kita tak boleh berkata-kata. Boleh kita berkata-bata, asal bukan hanya sekedar apa sedang kita sampaikan itu benar, namun juga mencermati apakah cara penyampaiannya juga sudah benar, sudah sesuaikah dengan pendengar ataukah belum. Orang jawa bilang, “Benar yang disampaikan dan benar dalam penyampaiannya”. Jadi jangan hanya berbicara benar saja. Ada tata kramanya. Ada aturan dalam membicarakan sesuatu.
Maka hati-hatilah menggunakan pisau mulut atau berbicara. Karena berbicara bisa mengalahkan tajamnya pisau atau pedang. Yang terkadang pun tidak hanya sekedar berdarah, namum masuk kedalamnya hati. Memberikan luka yang lebih membekas ketimbang pisau itu sendiri. Membuat goredan hati yang tak terobati. Dan yang fatal, suli lagi bagi kita untuk mengajak bicara lagi orang yang sudah terluka hatinya.
Pantas Umar bin Khothob mengatakan, “Orang yang paling banyak bicara adalah orang yang paling banyak kesalahannya.”
Berkatalah yang tepat saja, yang memberikan pandapat yang bijak, serta perencanaan yang matang. Banyaklah diam dan memperhatikan. Berilah pendapat yang sesuai kenyataan. Berilah pendapat tidak jika sekiranya jawaban itu lah yang terbaik. Dengan jawaban demikian kita tak akan dicela, sebab dari semula kita tak memberikan janji apapun terhadapnya. Bahkan jawaban ini lebih baik daripada meng’iya’kan namun tak sesuai kenyataan. Karena meng’iya’kan sesudah meniadakan adalah sikap terpuji. Sebab dengannya, mata hati Anda akan terbuka. Walaupun semua hal akan tetap sama, tapi tafsirannya akan jadi berbeda. Hati Anda akan terbuka, melampui tataran materi yang ada disekeliling Anda, menemui getar nurani yang tercipta. Dan semua orangpun akan memuji Anda.
Imam Ibnu Rajab ra mengatakan, “Sesungguhnya barang siapa yang baik Islamnya, pasti ia meninggalakan ucapan atau perbuatan yang tidak penting atau tak bermanfaat baginya.” Karena ukuran penting atau tidaknya itu tentu ditimbang dari syari’at. Bukan menurut rasio atau akal, atau hawa nafsu. Carilah keselamatan dengan banyak diam dan meninggalkan ucapan-ucapan yang tak perlu. Karena mencari keselamatan itu tak ada bandinganya.
Imam Ibnu Qoyyim berkata, “Adalah sangat mengherankan orang bisa menghindari dari hal-hal yang haram, berzina, mabuk-mabukan, mencuri, memandang hal yang diharamkan, dan lainnya,

tapi sulit menjaga pergerakan lisannya. Sampai-sampai ada orang yang dipandang ahli ibadah, zuhud, tapi ia berbicara dengan tanpa sangka telah mendatangkan murka Allah.”
Diamlah, dengarkan mereka yang berbicara kepada kita dan perhatikanlah, tahanlah ego dalam diri kita, jangan pula mencampuri urusan orang lain jika tak ada kepentingan terhadapnya. Janganlah seperti kebanyakan orang hari ini, dimana rasa ingin tahu terhadap masalah yang sedang di bicarakan oleh dua orang, mendorongnya untuk mendatangi kedua orang itu dan mencampurinya.